Kamis, 07 Januari 2016

ORANG MAHAT



Mempelajari etnik dan Budaya Minangkabau terkesan adanya warisan Budaya yang multi Etnik. Budaya Minangkabau tidak semata-mata di wariskan dari pengembangan ekspedisi Pamalayou dari Majapahit tahun 1275 M. Karena jauh sebelum kedatangan Adityawarman ke Minangkabau masyarakat di pedalaman Minangkjabau yang Multi etnis sudah berkembang lebih dahulu. Menelusuri kebudayaan Minangkabau yang beragam akan berarti juga menelusuri asal usul dari budaya dan masyarakat yang membawa budaya itu ke Pulau sumatera. Karena Budaya adalah cara hidup yang di pakai oleh sekelompok orang di zamannya.
Kedatangan orang-orang dari  luar Sumatera tidak bisa melepaskan diri dari adanya sebuah pelabuhan di pesisir pulau ini. Di wilayah pesisir Barat dan Timur  Sumatera antara abad ke 9M sampai 11 M terdapat banyak pelabuhan tradisional yang terletak di Muara Sungai yang disinggahi saudagar Internasional.Seperti telah diketahui bahwa perniagaan di wilayah pesisir timur Sumatera telah banyak diketahui dalam cacatan china.Tidak demikian halnya dengan pesisir Barat Sumatera yang di dominasi bangsa India memiliki sedikit sekali sumber informasi tertulis. Tetapi tidak bisa di ingkari bahwa wilayah pedalaman Sumatera melalui pelabuhan pantai Barat telah mengekspor barang-barang berharga berupa emas, kamper, damar, lilin dan Kemenyan yang sangat diperlukan pasar perdagangan dunia.
Untuk mencapai pedalaman sumatera sebagai penghasil komoditi diatas, tercatat beberapa Muara Sungai yang menghubungkan dengan pesisir Barat dan Timur pulau Sumatera. Sungai Barumun di bagian utara yang bermuara ke selat Melaka dan menjadi lalulintas perniagaan ketika itu dikuasai oleh orang Sriwijaya, Wilayah Kampar, Indragiri dan Rokan  merupakan jalur perniagaan ke wilayah pantai dipesisir timur yang aman. Antara Hulu sungai Rokan dan Hulu Sungai Kampar bertemu disekitar Lubuk Batingkok, termasuk juga wilayah Simelenggang, di Kabuaten 50 kota sekarang.Ketika itu wilayah ini termasuk dalam kawasan yang dikuasai Maharaja Indra. Sementara selingkar anak Sungai Batang Limpasi akan berhulu di Sungai Lolo, sebuah sungai yang menghubungkan Padang lawas dengan kerajaan Panai, dimana Kamper dihasilkan.Kita mengetahui, bahwa Panai, ditaklukkan Chola pada tahun 1038, yang berhubungan ke Aek Godang , sebuah muara sungai yang terdapat di Muara Batang Gadis, disitu bermukim suku Shingkuang. Oleh karena Panai yang di taklukkan Chola yang dalam tahun 1030 menemui kegagalan meminta upeti ke Sriwijaya, ia diketahui masuk ke pedalaman Minangkabau melalui Hulu Kampar dan membuat pemukiman bernama Mungkal. Maka sangat mungkin, penaklukan demikian adalah untuk mencapai sumber utama Kamer dan emas yang berada di sekitar Gunung Gadang, sebuah gunung yang terletak di pedalaman Sumatera dan hanya bisa di capai melalui Padang lawas dari utara atau dengan mengaliri anak sungai Batang Limpasi yang bermuara ke Sungai Batang Sinamar, di wilayah Simelenggang.
Negeri Aek Godang, di muara Batang Gadis adalah muara sungai di pesisir Barat Sumatera yang bersempadan dengan Barus. Dalam Kronik Batak diketahui bahwa sebenarnya, yang mendirikan Barus adalah kaum Cetti ( saudagar ). Mereka adalah orang-orang India Selatan yang datang lebih awal yang disebut orang Keling dalam tahun 1088M mendirikan perkumpulan dagang di Barus dengan nama Ayyavole, kaum inilah yang pertama kalinya disebut sebagai CHETTI yang berkembang pesat sampai ke Ceylon. *) sumber. Meera Abraham.Two Medieval merchant guidds of Soud India. Delhi ,Monahar, 1988.Bab.8. Chetti yang dimaksud juga sampai ke pedalaman Minangkabau di kaki gunung Gadang dalam perniagaan emas, dan tercatat dalam Tambo negeri Puar Datar yang diangkat setaraf Menteri Besar  bergelar seorang Patih, dalam kekuasaan Maharaja Indra.
Kehadiran seorang Cetti di hulu Kampar di dalam tahun 1088 M dibuktikan melalui barang-barang peninggalan budaya ketika itu. Kehidupan seorang Chetti yang kaya raya di zamannya, akan membawa pola hidup mewah dengan memakai berbagai barang kebutuhan hidu yang di datangkan dari tempat lain. Begitu juga di Barus dan Panai, bahwa barang-barang yang digunakan terbukti adalah barang-barang terakota beragam yang berasal dari China. Dalam Buku Groeneboer, (ed)2002.Hal.306. Baroes 20.7.56. ditulis bahwa Perniagaan di Tapanuli Selatan, dimana terdapat Kerajaan Panai  dikuasai oleh Kaum China dan penduduk yang berasal dari Korromandel ( Orang Keling).Barang-barang terakota, yang diperlukan di Tapanuli ketika itu dibawa masuk dari wilayah Minangkabau dan Aceh.
Tehnik-tehnik pembuatan barang Terakota yang diperkenalkan orang India,  telah di produksi di Padang Tinggi sebuah pemukiman yang ada di sehiliran sungai Batang Sinamar, yakni wilayah Simelenggang. Barang-barang yang di hasilkan, dibawa kembali dalam jalur Perniagaan antara Padang Tinggi ke Padang Lawas untuk sampai ke wilayah Tapanuli Selatan oleh saudagar-saudagar orang Chinkhuang. Sementara orang-orang keling yang berasal dari India selatan dan kemudian dikenal sebagai suku Mandala Holling ( Mandailing) berangsur keluar Sumatera atau berbaur dengan pendatang yang dibawa orang-orang Chola.
Yang dimaksud barang-barang Terakota adalah barang-barang kebutuhan hidup yang digunakan ketika itu, bahwa selain barag yang diimport untuk kaum bangsawan, termasuk juga baranbg yang diroduksi menurut tehnik aslinya yang di produksi di Padang Tinggi. Tembikar yang demikian tidak di produksi di Panai.
Tidak ada satu pun petunjuk yang membuktikan  bahwa sampai tahun 1088 M, antara pedalaman Minangkabau sudah berhubungan dengan Kallah ( Melaka),sebagai kawasan lalulintas perniagaan ketika itu. Hal itu diyakini karena Kalla sebagai pelabuhan internasional ketika itu, justru mendapatkan Kamper dari Bruney ( Borneo).Perhubungan yang demikian jelas mencerminkan adanya hubungan antara pantai Barat Borneo dan pantai timur Teluk Benggala, dimana terdapat kawasan yang penghasil tembikar yang mempunyai ciri gabungan antara tehnik glasir orang India dan tembikar yang di produksi orang China yang berasal dari Quang Dong pada masa Tang Dinasti.
Akan tetapi, Prof.Dr.Slamet Mulyana, dalam bukunya Sejarah Sriwijaya menyebutkan bahwa para saudagar china yang menunggu musim angin Barat untuk kembali ke Cantown telah membawa barang-barang dagangan itu dengan memasukkan ke dalam Guci-guci ke Pedalaman Sumatera. Guci dimaksud, berupa kendi2 China yang sebelumnya digunakan sebagai tempat air bersih dalam pelayaran mereka. Penelitian mengenai asal guci dan tembikar dimaksud dapat diketahui bahwa Guci  yang mereka bawa dan berserakan sebagai benda-benda peninggalan sepanjang alur periagaan zaman itu berasal dari periode kekuasaan Tang Dinasti, di China, dan Song Utara. Pada masa kekuasaan Chola wilayah ini sudah berhubungan.
Memang tidak semua tembikar yang ada di Tapanuli selatan di bawa dari China, banyak sekali Tembikar yang digunakan disepanjang jalur perniagaan Kamper dan emas antara Gunung Gadang,Padang Lawas, dan Panai yang berasal dari Tembikar lokal dengan ciri dan motif yang hampir sama dengan yang terdapat di India dan China, Gaya campuran yang demikian adalah meruakan warisan dari tehnik-tehnik yang diberikan Arang keling dan China yang selanjutnya di buat di Padang Tinggi untuk kembali di edarkan di pedalaman Sumatera.
Seperti telah di uraikan, bahwa pengaruh kekuasaan orang Chola ke pedalaman Sumatera telah mendirikan pemukiman baru, yang di sebut Mungkal. Orang chola pula  yang menggunakan jalur perniagaan di sepanjang Sungai Kampar. Karena jalur ini berada dalam kekuasaan Maharaja Indra,yang mempunyai rakyat dari India dan sebagian orang Srilangka dan menguasai jalur perniagaan ke Kallah. Sebaliknya Raja Chola menggunakan jalur Teluk Benggala ke Chola dan pantai Barat pulau Borneo. Dari jalur maritim yang digunakan itu, agak mudah di pahami bahwa Guci sebagai alat yang digunakan dalam perniagaan ketika itu, berasal dari tempat yang sama. Para peneliti  Archeolog membuktikan bahwa tembikar yang digunakan ketika itu berasal dari tehnik campuran dari tungku-tungku Keramik yang banyak terdapat di wilayah Quang Dong. Dimana Tembikar dimaksud banyak di eskport melalui pelabuhan Quang Zhou  ke Ceylon.
Seperti telah dikatakan, bahwa Ceylon adalah wilayah yang di taklukan orang Chola, kebiasaan Raja-raja Chola tidak menduduki wilayah yang di tundukkannya, tetapi sebaliknya meminta Upeti kepada wilayah yang di tundukkannya. Pada masa itu, Tembikar yang berupa Guci merupakan produksi yang diawasi pemerintah di China yang diroduksi khusus untuk membayar Upeti. Pelabuhan Quang Zhou merupakan pelabuhan terdekat dengan wilayah pembuatan tembikar ini dari desa Zhe Jhiang, dimana tembikar ini dibuat dan merupakan warisan tradisi yang sudah ada sejak awal masehi. Orang-orang Quang Zhou, sekaligus menjadi perantara untuk tembikar dimaksud.
Dari uraian ini tampak jelas bahwa Tembikar yang banyak digunakan di Kerajaan Panai , Tapanuli Selatan, didapat dari hasil perhubungan maritim pantai Timur Sumatera ketika Kerajaan Panai di Taklukan orang Chola. Kerajaan  Panai terletak di pedalaman Sumatera, diantara gunung yang tinggi yang hanya bisa di capai melalui jalur sungai dari sisi antai Barat Sumatera melalui Batang Gadis dan atau sisi Timur Pantai Sumatera melalui Kampar dan Rokan Untuk mencapai kerajaan Panai, dapat melalui Padang lawas yang sudah lama diketahui sebagai tempat yang dapat capai dari kedua sisi pantai Sumatera,bagian barat dan Timur. Untuk mencapai Padang lawas dapat menyusuri Sungai pane yang bermuara ke Sungai Barumun. Sungai ini, menjadi penghubung lalulintas ke Selat Malaka.
Di Bagian yang lain, dengan menyusuri anak Sungai Batang Limpasi, dalam Wilayah Simelenggang, akan bermuara ke Sungai Lolo yang berhulu ke gunung Tua. Akan sangat mudah mencapai Panai, dan mengaliri  sungai Batang Gadis samai ke Muaranya di pantai Barat sumatera, yaitu kampong Aek Godang. ( Air Besar). Dari jalur itu, dikenal juga sebuah kota, yang bernama Kota Raja.Dalam perhubungan disini, antara etnis yang ada, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa yang mudah dapat dimengerti. Asimilasi  kaum yang berhubung disini menyebut saudagar yang berniaga dengan membawa Guci sebagai China Quang. Maknanya adalah orang China yang datang dari QuangZhou, sebuah pelabuhan di wilayah Laut China selatan. Ethnis ini yang menetap di Muara Sungai Batang Gadis yang kemudian mengalami perubahan konsonan sebagai Orang Chinkuang.(Shinkuang).Tiga kampung yang pertama dikenal di hulu Kampar, adalah Kampung Anding, tempat kedudukan Srimaharaja, kampung Cinkuang ( Shinkhuang) kedudukan saudagar China, kampung Mungkal tempat kedudukan Srimaharaja ( orang Chola). Perkawinan Silang antar ketiga kaum ini telah menghasilkan apa yang disebut Orang Mahat Dengan mengangkat seorang petinggi adat sendiri dan digelari Bandaro sekaligus merupakan salah seorang dari Ninik Yang berempat di Hulu Kampar.
Perlu diketahui bahwa, Dua Negari yang pertama di tumbuhkan adalah Nagari Anding dan Negari Mungkal, dengan asal usul pemimpin yang berbeda. Bila di negari Anding di duduki oleh Maharaja Indra, berasal dari wangsa Syailendra, adalah penganut Bhuda yang merupakan Raja di Gunung. Sementara negeri mungkal di didirkan oleh orang Chola, yang mempunyai kebiasaan untuk menaklukkann satu daerah yang untuk hanya meminta upeti saja dan kemudian meninggalkan wilayah itu.Orang Chola kemudian diketahui pada tahun 1038M menyerang dan menundukkan kerajaan Panai. Wilayah mana amat jelas melalui Padang Lawas. Dimana antara Panai dan pelabuhan aek Godang di muara Batang Gadis  sudah berhubungan dengan Pelabuhan Barus.
Sementara itu telah diketahui bahwa dalam tahun 1040 M, melalui Pelabuhan tradisional di pantaui Barat Sumatera, antara Barus dan Lebong sebuah negeri  penghasil emas di bagian Selatan Sumatera telah lama berhubungan. Ketika itu, Indrapura yang dipimpin Indra jetti merupakan wilayah yang memasarkan hasil tambang dari Lebong.Hanya raja-raja yang non islam saja yang boleh menguasai tambang-tambang emas ketika itu, sedangkan Indra Jetti adalah seorang Raja Indra yang Mualaf. Mungkin dengan alasan demikian, Chola yang sudah menguasai Kerajaan Panai di Tapanuli Selatan berusaha untuk menaklukan Indra pura. Adalah sangat mungkin terjadi disitu,  pertemuan antara anak Indra Jetti, bernama Indra Jelita dengan orang Chola,  bernama Sangsapurba dan sudah memiliki nama Melayu dengan gelar Srimaharaja yang di akhiri dengan perkawinan. Pertemuan mana dalam adat terkenal dengan nama Bukit Siguntang Mahameru,sebuah kawasan di wilayah Bukit Barisan. Perkawinan tersebut menyebabkan Srimaharaja tidak kembali ke Mungkal, tetapi justru membuat pemukiman baru yang kemudian terkenal dengan Sungai Kayu Batarok, delapan Batu. ( sungai Tarab dengan delaan negeri di dalamnya).
Dibagian awal tulisan ini sudah disebutkan bahwa Kerajaan Pangai sebenarnya didirikan oleh Kaum Cetti ( Cettier) yakni saudagar orang Keling dari India belakang dan Orang China Khuangdong yang membawa tembikar.  Orang Keling ini setelah Pangai dikuasai oleh Chola tahun 1038-1040M,juga  telah membentuk kawasan baru dengan nama Mandala Holling. Orang cina Khuangdong yang tidak kembali ke negerinya pun mengalami perubahan nama dalam bahasa melayu disebut China Kuang. Perubahan konsonan bahasa melayu kemudian menyebutnya sebagai kaum Shinkhuang. Kaum ini berbaur menjadi satu dengan kaum orang Keling yang menjadi suku Mandailing.  Menyusuri Sungai Batang Lolo mereka kembali ke Hulu Kampar dan membentuk koloni di tepi sungai Batang sinamar. Orang Keling menjadi suku Koto Anyir dengan piminannya bernama Raja Lelo. Sementara Orang Shingkuang membentuk kampung Shingkhuang masih ditepi sungai Sinamar dengan diberi seorang Patih, bergelar Patih Manghkudum. Sedangkan wilayah Mungkal yang di tinggalkan orang chola, tetap berada dalam rentang kendali Maharaja Indra.Disitu diangkat seorang penghulu andiko bergelar Datuk Rangkayo Besar di bawah payung kebesaran Kaum Bodi Chaniago wilayah adat Dartuk Perpateh.
Sampai tahun 1088 M melalui sebuah prasasti berbahasa Tamil, masih dapat diketahui bahwa orang-orang keling yang disebut kaum Cattier ( saudagar) melalui perkumpulan dagangnya bernama Ayyavole, masih bertempat tinggal di wilayah Tapanuli dan Barus, sampai awal abad ke XII secara berangsur-angsur kelompok Cetti ini menghilang sejalan dengan di taklukannya kerajaan Panai oleh raja-raja Chola yang datang dari pesisir Timur Sumatera.
                                             ----------------------------------------------------