Mempelajari etnik dan Budaya
Minangkabau terkesan adanya warisan Budaya yang multi Etnik. Budaya Minangkabau
tidak semata-mata di wariskan dari pengembangan ekspedisi Pamalayou dari
Majapahit tahun 1275 M. Karena jauh sebelum kedatangan Adityawarman ke
Minangkabau masyarakat di pedalaman Minangkjabau yang Multi etnis sudah
berkembang lebih dahulu. Menelusuri kebudayaan Minangkabau yang beragam akan
berarti juga menelusuri asal usul dari budaya dan masyarakat yang membawa
budaya itu ke Pulau sumatera. Karena Budaya adalah cara hidup yang di pakai
oleh sekelompok orang di zamannya.
Kedatangan orang-orang dari luar Sumatera tidak bisa melepaskan diri dari
adanya sebuah pelabuhan di pesisir pulau ini. Di wilayah pesisir Barat dan Timur
Sumatera antara abad ke 9M sampai 11 M
terdapat banyak pelabuhan tradisional yang terletak di Muara Sungai yang
disinggahi saudagar Internasional.Seperti telah diketahui bahwa perniagaan di
wilayah pesisir timur Sumatera telah banyak diketahui dalam cacatan china.Tidak
demikian halnya dengan pesisir Barat Sumatera yang di dominasi bangsa India
memiliki sedikit sekali sumber informasi tertulis. Tetapi tidak bisa di ingkari
bahwa wilayah pedalaman Sumatera melalui pelabuhan pantai Barat telah
mengekspor barang-barang berharga berupa emas, kamper, damar, lilin dan
Kemenyan yang sangat diperlukan pasar perdagangan dunia.
Untuk mencapai pedalaman sumatera
sebagai penghasil komoditi diatas, tercatat beberapa Muara Sungai yang
menghubungkan dengan pesisir Barat dan Timur pulau Sumatera. Sungai Barumun di
bagian utara yang bermuara ke selat Melaka dan menjadi lalulintas perniagaan
ketika itu dikuasai oleh orang Sriwijaya, Wilayah Kampar, Indragiri dan Rokan
merupakan jalur perniagaan ke wilayah pantai dipesisir timur yang aman. Antara
Hulu sungai Rokan dan Hulu Sungai Kampar bertemu disekitar Lubuk Batingkok,
termasuk juga wilayah Simelenggang, di Kabuaten 50 kota sekarang.Ketika itu
wilayah ini termasuk dalam kawasan yang dikuasai Maharaja Indra. Sementara
selingkar anak Sungai Batang Limpasi akan berhulu di Sungai Lolo, sebuah sungai
yang menghubungkan Padang lawas dengan kerajaan Panai, dimana Kamper
dihasilkan.Kita mengetahui, bahwa Panai, ditaklukkan Chola pada tahun 1038,
yang berhubungan ke Aek Godang , sebuah muara sungai yang terdapat di Muara
Batang Gadis, disitu bermukim suku Shingkuang. Oleh karena Panai yang di
taklukkan Chola yang dalam tahun 1030 menemui kegagalan meminta upeti ke
Sriwijaya, ia diketahui masuk ke pedalaman Minangkabau melalui Hulu Kampar dan
membuat pemukiman bernama Mungkal. Maka sangat mungkin, penaklukan demikian
adalah untuk mencapai sumber utama Kamer dan emas yang berada di sekitar Gunung
Gadang, sebuah gunung yang terletak di pedalaman Sumatera dan hanya bisa di capai
melalui Padang lawas dari utara atau dengan mengaliri anak sungai Batang
Limpasi yang bermuara ke Sungai Batang Sinamar, di wilayah Simelenggang.
Negeri Aek Godang, di muara
Batang Gadis adalah muara sungai di pesisir Barat Sumatera yang bersempadan
dengan Barus. Dalam Kronik Batak diketahui bahwa sebenarnya, yang mendirikan
Barus adalah kaum Cetti ( saudagar ). Mereka adalah orang-orang India Selatan
yang datang lebih awal yang disebut orang Keling dalam tahun 1088M mendirikan
perkumpulan dagang di Barus dengan nama Ayyavole, kaum inilah yang pertama
kalinya disebut sebagai CHETTI yang berkembang pesat sampai ke Ceylon. *)
sumber. Meera Abraham.Two Medieval merchant guidds of Soud India. Delhi
,Monahar, 1988.Bab.8. Chetti yang dimaksud juga sampai ke pedalaman Minangkabau
di kaki gunung Gadang dalam perniagaan emas, dan tercatat dalam Tambo negeri
Puar Datar yang diangkat setaraf Menteri Besar
bergelar seorang Patih, dalam kekuasaan Maharaja Indra.
Kehadiran seorang Cetti di hulu
Kampar di dalam tahun 1088 M dibuktikan melalui barang-barang peninggalan
budaya ketika itu. Kehidupan seorang Chetti yang kaya raya di zamannya, akan
membawa pola hidup mewah dengan memakai berbagai barang kebutuhan hidu yang di
datangkan dari tempat lain. Begitu juga di Barus dan Panai, bahwa barang-barang
yang digunakan terbukti adalah barang-barang terakota beragam yang berasal dari
China. Dalam Buku Groeneboer, (ed)2002.Hal.306. Baroes 20.7.56. ditulis bahwa
Perniagaan di Tapanuli Selatan, dimana terdapat Kerajaan Panai dikuasai oleh Kaum China dan penduduk yang
berasal dari Korromandel ( Orang Keling).Barang-barang terakota, yang
diperlukan di Tapanuli ketika itu dibawa masuk dari wilayah Minangkabau dan
Aceh.
Tehnik-tehnik pembuatan barang
Terakota yang diperkenalkan orang India,
telah di produksi di Padang Tinggi sebuah pemukiman yang ada di
sehiliran sungai Batang Sinamar, yakni wilayah Simelenggang. Barang-barang yang
di hasilkan, dibawa kembali dalam jalur Perniagaan antara Padang Tinggi ke
Padang Lawas untuk sampai ke wilayah Tapanuli Selatan oleh saudagar-saudagar
orang Chinkhuang. Sementara orang-orang keling yang berasal dari India selatan
dan kemudian dikenal sebagai suku Mandala Holling ( Mandailing) berangsur
keluar Sumatera atau berbaur dengan pendatang yang dibawa orang-orang Chola.
Yang dimaksud barang-barang
Terakota adalah barang-barang kebutuhan hidup yang digunakan ketika itu, bahwa
selain barag yang diimport untuk kaum bangsawan, termasuk juga baranbg yang
diroduksi menurut tehnik aslinya yang di produksi di Padang Tinggi. Tembikar yang
demikian tidak di produksi di Panai.
Tidak ada satu pun petunjuk yang
membuktikan bahwa sampai tahun 1088 M,
antara pedalaman Minangkabau sudah berhubungan dengan Kallah ( Melaka),sebagai kawasan
lalulintas perniagaan ketika itu. Hal itu diyakini karena Kalla sebagai
pelabuhan internasional ketika itu, justru mendapatkan Kamper dari Bruney (
Borneo).Perhubungan yang demikian jelas mencerminkan adanya hubungan antara
pantai Barat Borneo dan pantai timur Teluk Benggala, dimana terdapat kawasan
yang penghasil tembikar yang mempunyai ciri gabungan antara tehnik glasir orang
India dan tembikar yang di produksi orang China yang berasal dari Quang Dong
pada masa Tang Dinasti.
Akan tetapi, Prof.Dr.Slamet
Mulyana, dalam bukunya Sejarah Sriwijaya menyebutkan bahwa para saudagar china
yang menunggu musim angin Barat untuk kembali ke Cantown telah membawa
barang-barang dagangan itu dengan memasukkan ke dalam Guci-guci ke Pedalaman
Sumatera. Guci dimaksud, berupa kendi2 China yang sebelumnya digunakan sebagai
tempat air bersih dalam pelayaran mereka. Penelitian mengenai asal guci dan
tembikar dimaksud dapat diketahui bahwa Guci yang mereka bawa dan berserakan sebagai
benda-benda peninggalan sepanjang alur periagaan zaman itu berasal dari periode
kekuasaan Tang Dinasti, di China, dan Song Utara. Pada masa kekuasaan Chola
wilayah ini sudah berhubungan.
Memang tidak semua tembikar yang
ada di Tapanuli selatan di bawa dari China, banyak sekali Tembikar yang
digunakan disepanjang jalur perniagaan Kamper dan emas antara Gunung
Gadang,Padang Lawas, dan Panai yang berasal dari Tembikar lokal dengan ciri dan
motif yang hampir sama dengan yang terdapat di India dan China, Gaya campuran
yang demikian adalah meruakan warisan dari tehnik-tehnik yang diberikan Arang
keling dan China yang selanjutnya di buat di Padang Tinggi untuk kembali di
edarkan di pedalaman Sumatera.
Seperti telah di uraikan, bahwa
pengaruh kekuasaan orang Chola ke pedalaman Sumatera telah mendirikan pemukiman
baru, yang di sebut Mungkal. Orang chola pula
yang menggunakan jalur perniagaan di sepanjang Sungai Kampar. Karena
jalur ini berada dalam kekuasaan Maharaja Indra,yang mempunyai rakyat dari India
dan sebagian orang Srilangka dan menguasai jalur perniagaan ke Kallah.
Sebaliknya Raja Chola menggunakan jalur Teluk Benggala ke Chola dan pantai
Barat pulau Borneo. Dari jalur maritim yang digunakan itu, agak mudah di pahami
bahwa Guci sebagai alat yang digunakan dalam perniagaan ketika itu, berasal
dari tempat yang sama. Para peneliti
Archeolog membuktikan bahwa tembikar yang digunakan ketika itu berasal
dari tehnik campuran dari tungku-tungku Keramik yang banyak terdapat di wilayah
Quang Dong. Dimana Tembikar dimaksud banyak di eskport melalui pelabuhan Quang
Zhou ke Ceylon.
Seperti telah dikatakan, bahwa
Ceylon adalah wilayah yang di taklukan orang Chola, kebiasaan Raja-raja Chola
tidak menduduki wilayah yang di tundukkannya, tetapi sebaliknya meminta Upeti
kepada wilayah yang di tundukkannya. Pada masa itu, Tembikar yang berupa Guci
merupakan produksi yang diawasi pemerintah di China yang diroduksi khusus untuk
membayar Upeti. Pelabuhan Quang Zhou merupakan pelabuhan terdekat dengan
wilayah pembuatan tembikar ini dari desa Zhe Jhiang, dimana tembikar ini dibuat
dan merupakan warisan tradisi yang sudah ada sejak awal masehi. Orang-orang
Quang Zhou, sekaligus menjadi perantara untuk tembikar dimaksud.
Dari uraian ini tampak jelas
bahwa Tembikar yang banyak digunakan di Kerajaan Panai , Tapanuli Selatan,
didapat dari hasil perhubungan maritim pantai Timur Sumatera ketika Kerajaan
Panai di Taklukan orang Chola. Kerajaan
Panai terletak di pedalaman Sumatera, diantara gunung yang tinggi yang
hanya bisa di capai melalui jalur sungai dari sisi antai Barat Sumatera melalui
Batang Gadis dan atau sisi Timur Pantai Sumatera melalui Kampar dan Rokan
Untuk mencapai kerajaan Panai, dapat melalui Padang lawas yang sudah lama
diketahui sebagai tempat yang dapat capai dari kedua sisi pantai
Sumatera,bagian barat dan Timur. Untuk mencapai Padang lawas dapat menyusuri
Sungai pane yang bermuara ke Sungai Barumun. Sungai ini, menjadi penghubung
lalulintas ke Selat Malaka.
Di Bagian yang lain, dengan
menyusuri anak Sungai Batang Limpasi, dalam Wilayah Simelenggang, akan bermuara
ke Sungai Lolo yang berhulu ke gunung Tua. Akan sangat mudah mencapai Panai,
dan mengaliri sungai Batang Gadis samai
ke Muaranya di pantai Barat sumatera, yaitu kampong Aek Godang. ( Air Besar).
Dari jalur itu, dikenal juga sebuah kota, yang bernama Kota Raja.Dalam
perhubungan disini, antara etnis yang ada, bahasa Melayu digunakan sebagai
bahasa yang mudah dapat dimengerti. Asimilasi
kaum yang berhubung disini menyebut saudagar yang berniaga dengan
membawa Guci sebagai China Quang. Maknanya adalah orang China yang datang dari
QuangZhou, sebuah pelabuhan di wilayah Laut China selatan. Ethnis ini yang
menetap di Muara Sungai Batang Gadis yang kemudian mengalami perubahan konsonan
sebagai Orang Chinkuang.(Shinkuang).Tiga kampung yang pertama dikenal di hulu
Kampar, adalah Kampung Anding, tempat kedudukan Srimaharaja, kampung Cinkuang (
Shinkhuang) kedudukan saudagar China, kampung Mungkal tempat kedudukan
Srimaharaja ( orang Chola). Perkawinan Silang antar ketiga kaum ini telah
menghasilkan apa yang disebut Orang Mahat Dengan mengangkat seorang petinggi adat
sendiri dan digelari Bandaro sekaligus merupakan salah seorang dari Ninik Yang
berempat di Hulu Kampar.
Perlu diketahui bahwa, Dua Negari
yang pertama di tumbuhkan adalah Nagari Anding dan Negari Mungkal, dengan asal
usul pemimpin yang berbeda. Bila di negari Anding di duduki oleh Maharaja
Indra, berasal dari wangsa Syailendra, adalah penganut Bhuda yang merupakan
Raja di Gunung. Sementara negeri mungkal di didirkan oleh orang Chola, yang mempunyai
kebiasaan untuk menaklukkann satu daerah yang untuk hanya meminta upeti saja
dan kemudian meninggalkan wilayah itu.Orang Chola kemudian diketahui pada tahun
1038M menyerang dan menundukkan kerajaan Panai. Wilayah mana amat jelas melalui
Padang Lawas. Dimana antara Panai dan pelabuhan aek Godang di muara Batang
Gadis sudah berhubungan dengan Pelabuhan
Barus.
Sementara itu telah diketahui
bahwa dalam tahun 1040 M, melalui Pelabuhan tradisional di pantaui Barat
Sumatera, antara Barus dan Lebong sebuah negeri
penghasil emas di bagian Selatan Sumatera telah lama berhubungan. Ketika
itu, Indrapura yang dipimpin Indra jetti merupakan wilayah yang memasarkan
hasil tambang dari Lebong.Hanya raja-raja yang non islam saja yang boleh
menguasai tambang-tambang emas ketika itu, sedangkan Indra Jetti adalah seorang
Raja Indra yang Mualaf. Mungkin dengan alasan demikian, Chola yang sudah
menguasai Kerajaan Panai di Tapanuli Selatan berusaha untuk menaklukan Indra
pura. Adalah sangat mungkin terjadi disitu, pertemuan antara anak Indra Jetti, bernama
Indra Jelita dengan orang Chola, bernama
Sangsapurba dan sudah memiliki nama Melayu dengan gelar Srimaharaja yang di
akhiri dengan perkawinan. Pertemuan mana dalam adat terkenal dengan nama Bukit
Siguntang Mahameru,sebuah kawasan di wilayah Bukit Barisan. Perkawinan tersebut
menyebabkan Srimaharaja tidak kembali ke Mungkal, tetapi justru membuat
pemukiman baru yang kemudian terkenal dengan Sungai Kayu Batarok, delapan Batu.
( sungai Tarab dengan delaan negeri di dalamnya).
Dibagian awal tulisan ini sudah
disebutkan bahwa Kerajaan Pangai sebenarnya didirikan oleh Kaum Cetti (
Cettier) yakni saudagar orang Keling dari India belakang dan Orang China
Khuangdong yang membawa tembikar. Orang
Keling ini setelah Pangai dikuasai oleh Chola tahun 1038-1040M,juga telah membentuk kawasan baru dengan nama
Mandala Holling. Orang cina Khuangdong yang tidak kembali ke negerinya pun
mengalami perubahan nama dalam bahasa melayu disebut China Kuang. Perubahan
konsonan bahasa melayu kemudian menyebutnya sebagai kaum Shinkhuang. Kaum ini
berbaur menjadi satu dengan kaum orang Keling yang menjadi suku Mandailing. Menyusuri Sungai Batang Lolo mereka kembali
ke Hulu Kampar dan membentuk koloni di tepi sungai Batang sinamar. Orang Keling
menjadi suku Koto Anyir dengan piminannya bernama Raja Lelo. Sementara Orang Shingkuang
membentuk kampung Shingkhuang masih ditepi sungai Sinamar dengan diberi seorang
Patih, bergelar Patih Manghkudum. Sedangkan wilayah Mungkal yang di tinggalkan
orang chola, tetap berada dalam rentang kendali Maharaja Indra.Disitu diangkat
seorang penghulu andiko bergelar Datuk Rangkayo Besar di bawah payung kebesaran
Kaum Bodi Chaniago wilayah adat Dartuk Perpateh.
Sampai tahun 1088 M melalui
sebuah prasasti berbahasa Tamil, masih dapat diketahui bahwa orang-orang keling
yang disebut kaum Cattier ( saudagar) melalui perkumpulan dagangnya bernama
Ayyavole, masih bertempat tinggal di wilayah Tapanuli dan Barus, sampai awal
abad ke XII secara berangsur-angsur kelompok Cetti ini menghilang sejalan dengan
di taklukannya kerajaan Panai oleh raja-raja Chola yang datang dari pesisir
Timur Sumatera.
----------------------------------------------------
